Tampilkan postingan dengan label minimalis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label minimalis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 September 2014

tulisan Roni Yuzirman : ReSOULusi Sederhana, Mulai dari Rumah

Kebutuhan akan space (ruangan) di rumah selalu bertambah. Seiring dengan bertambahnya barang-barang di rumah. Mulai dari buku, majalah, pakaian, gadget dan kabel-kabelnya. Itu baru bagian saya. Belum lagi bagiannya istri dan anak-anak.
Beberapa tahun lalu, saya selalu berpikir untuk menambah ruangan, menambah rak atau lemari, seiring dengan bertambahnya barang koleksi saya. Bayangkan, koleksi buku saya sampai menjajah lemari dapur.
Sekarang saya tidak butuh tambahan ruangan atau lemari lagi. Apalagi setelah belajar dan mempraktekkan gaya hidup minimalis.
Salah satu caranya adalah, tinggalkan yang penting saja dan singkirkan sisanya. Saya juga menggunakan metode “garbage in garbage out”, artinya barang yang masuk harus seimbang dengan barang yang keluar. Misalnya, saya beli 2 baju, harus diimbangi dengan mengeluarkan 2 baju dari lemari untuk disumbangkan atau diberikan kepada orang lain. Biar tidak terjadi penumpukan.
Awal tahun 2013 saya bertekad untuk tidak lagi membeli buku, koran atau majalah cetakan dan pindah semuanya ke digital. Alhamdulillah, target itu tercapai kira-kira 90 persenan. Sekarang relatif tidak ada lagi tumpukan buku, majalah atau koran di rumah. Rumah saya menjadi “clutter free”.
Resolusi tahunan saya tidak muluk-muluk. Menciptakan rumah yang nyaman dan bebas tumpukan barang adalah hal sederhana, tapi dampaknya saya rasakan tidak sederhana. Rumah jadi bersih, ringan dan lapang. Mudah-mudahan hidup juga demikian.

tulisan Roni Yuzirman : Flappy Bird, Ide Simple yang Dahsyat

Game Flappy Bird ternyata menghasilkan cash flow 600 jutaan per hari. Wow. Padahal hanya dikerjakan oleh satu orang anak muda dari Vietnam. Berbagai review pun menilai game ini jelek dan amatiran.
Kenapa game ini begitu digemari?
Saya tidak tahu. Saya bukan penggemar atau pengamat game.
Yang saya tahu, game ini sangat sangat simple. Idenya simple, programingnya simple, disainnya simple (buruk bahkan). Tapi justru orang sedunia menggilainya.
Idenya simple itu kadang tidak terlihat oleh orang kebanyakan. Orang kebanyakan berpikirnya kompleks, bekerjanya juga kompleks.
Coba perhatikan produk-produk Apple. Semuanya serba simple. Bayangkan, Apple hanya dengan 4 produk dengan 2-3 pilihan warna bisa menjadi perusahaan bernilai tertinggi di dunia. Bandingkan dengan Samsung yang ngos-ngosan mengejarnya dengan jumlah produk yang tak terhitung variannya. Samsung sangat kompleks.
Disain produk-produk Apple pun demikian. Sangat simple. Perhatikan disain iPhone itu, hanya ada 1 tombol dan tanpa logo Apple sama sekali di depannya.
Orang yang berpikir kompleks selalu berpikir untuk menambah. More, more, more adalah kredonya. Kebalikannya, orang yang berpikir simple selalu berpikir untuk mengurangi. Less, less, less. Kalau 1 tombol saja cukup, buat apa disediakan 3 tombol?
I believe in the power of less. Less is more.