Kamis, 08 Mei 2014

tutor trading


Review ulang training trading dulu & kata coach mesti ditulis/diketik biar terjadi repetisi ato pengulangan... Trus jadi trader gak bisa malas nyatet kayak pengusaha yg punya agenda ato ctt... Support & Resistance itu paling penting dlm analisa teknikal abis trend... Cara menentukan SR:
1. Trendline
2. Bottom/Top dlm 1 periode seblmnya
3. Indikator trend kayak MA, BB, PSAR, dll. Aku sih pake EMA
4. Price Action
5. Fibonacci
Jadi cari semua SR di semua time frame... Gabungan semua akan ada SR kuat... Konfirmasi, btl kan coach Novry Simanjuntak?
Like ·  · 

Selasa, 06 Mei 2014

Simple Business

Saturday, February 16, 2013


Simple Business

Waktu saya kecil, saya bercita-cita untuk memiliki sebuah usaha sendiri
Saat saya beranjak dewasa, disaat kuliah saya mempelajari management bisnis, management keuangan dan sebangsa nya.Namun statistik menyatakan bahwa peluang gagal sebuah bisnis di 2 tahun pertamanya adalah 80% (sumber : klik disini).
Banyak masalah yang menyebabkan gagalnya sebuah bisnis, seperti :
  • Kurangnya pengalaman bisnis dikala muda,  
  • Masalah pendanaan, 
  • Masalah mengatasi karyawan / sumber daya manusia
  • Persaingan bisnis dengan kompetitor 
  • Dsb...
Semua orang mesti belajar dari awal walaupun punya modal besar sekalipun tetap mesti belajar, mesti merasakan sakit dan jatuh bangun , karena jarang sekali yg langsung sukses pada usaha pertamanya. Saya pun pernah gagal dalam bisnis yang dikarenakan masalah dengan cashflow karena piutang usaha yang banyak gagal tertagih he...he...he...
Kemudian saya melirik bisnis disaham, saya melihat banyak sekali persamaan dengan sektor real, namun saya melihat juga adanya sedikit keunggulan yg lebih baik dari sektor real, yaitu :
  • Waktu mengawasi nya yang lebih fleksibel
  • Tidak perlu khawatir akan persaingan dengan kompetitor, karena tidak ada kompetitor :)
  • Tidak perlu modal yang besar sekali
  • Tidak perlu tempat / wadah usaha yang besar, cukup dengan sebuah laptop dan koneksi internet
  • Tidak perlu gudang untuk penyimpanan barang, apalagi brankas, saat ini harga brankas yang bagus saja minimal 20jt - 25jt an, mengapa saya patok dengan harga minimal sekian, karena saya tau titik lemah brankas yang harga nya dibawah itu :)
  • Tidak perlu showroom atau tempat display atau etalase untuk memajang barang dagangan
  • Dan bagian yang terbaik dari bisnis saham adalah dapat dilakukan walaupun kita masih sebagai karyawan , karena bisnis saham tidak menyita banyak waktu.

Melihat orang terkaya di indonesia saat ini, yaitu keluarga Djarum
Mengapa keluarga yg kaya seperti itu , tidak membangun usaha baru sebagai pelengkap atas usaha rokoknya yg sudah ada....Djarum malah membeli perusahaan yg sudah jadi yaitu Bank BCA.
Mengapa TEMASEK holding (perusahaan singapore) kurang sekali minat dalam membuat usaha baru dari nol , tapi malah asik caplok atau membeli saham perusahaan lain yg sudah ada, khususnya di indonesia.
Mengapa Warren Buffet juga sama seperti Temasek dan barusan saja Warren Buffet membeli saham perusahaan saus yang berumur 144 tahun , HJ Heinz Co senilai Rp.224 Trilliun !!!. Heinz merupakan induk perusahaan saus terkenal di indonesia yaitu saus tomat ABC.
Mengapa Lo keng Hoo juga sama seperti Buffet yg asik beli saham perusahaan yg sudah jadi , bukan mendirikan satu perusahaan baru dari awal.

Lihat Kentucky Fried Chicken (KFC), di kota saya, sejak saya kecil, saya suka sekali makan disana wkwkwkwkw sampai membuat saya berangan-angan untuk punya KFC sendiri, namun apa daya , butuh modal milyaran T__T. Saya juga suka minum kopi, ingin punya Starbuck , namun apa daya T__T.
Dengan Saham dapat memberikan jawaban atas ketidakmampuan permodalan saya di sektor real, karena disaham kita bisa memiliki perusahaan tersebut tanpa harus dengan modal yg besar.
Pemikiran sederhananya adalah hanya dengan modal kecil namun bisa ikut memiliki perusahaan tersebut dan tidak perlu ikut dengan urusan ribet nya setiap bulan seperti : 
  • urusan membayar gaji karyawan, 
  • urusan stock barang, 
  • urusan tenaga kerja , 
  • urusan menekan cost produksi dan lain sebagainya, saya hanya perlu menjadi silent partner saja wkwkwkwkwkw
Dan disaham, jika terjadi keadaan yg buruk pada perusahaan maka sahamnya dapat dijual dalam sekejap, beda dengan bisnis real yg sulit sekali jika kita ingin keluar dari bisnis yang kita bangun tersebut karena banyak urusan yg harus diselesaikan sebelum kita tutup.

Para pembaca yang terkasih, disaat negara indonesia yg sedang makmur nya sekarang ini (berdasarkan data ekonomi) maka jangan sampai kita ketinggalan,jangan sampai hanya orang lain atau sebagian kecil saja yg bisa menikmati saat-saat termakmur negara ini.
  • Jangan sampai kita hanya bisa minum kopi saja di Starbuck tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan tersebut. Mitra Adiperkasa (2011 awal) Rp.2.775 saat ini Rp.6.850  +146%
  • Jangan sampai kita hanya bisa beli motor atau mobil saja di Astra tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan tersebut.Astra Internasional (2011 awal) Rp.5.400 saat ini Rp. 7.750 +43%
  • Jangan sampai kita hanya bisa memarkir saja uang kita di bank tanpa ikut menikmati keuntungan bank tersebut dalam memanfaat dana kita yg dititipkan disana. Bank BCA (2011 awal) Rp.6.450 saat ini Rp. 10.000  +55% 
  • Jangan sampai kita hanya bisa menggunakan produk Unilever saja tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan tersebut.Unilever (2011 awal) Rp.16.000 saat ini Rp.23.000  +43%
  • Jangan sampai kita hanya bisa merokok saja tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan rokok tersebut.Sampoerna (2011 awal) Rp.28.000 saat ini Rp.72.000 +150%
  • Jangan sampai kita hanya bisa makan ayam saja tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan pakan ternak yang memasok ke peternakan ayam. Charoen Pokphand (2011 awal) Rp.1,800 saat ini Rp.4.200  +133%
  • Jangan sampai kita hanya bisa melewati tol dan membayar tarif tol tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan tol tersebut.Jasa Marga (2011 awal) Rp.3.500 saat ini Rp.5.500  +57%
  • Jangan sampai kita hanya bisa minum food suplement saja tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan yg memproduksinya tersebut. Kalbe Farma (2011 awal)  Rp660 saat ini Rp.1.130  +71%
Saham memberikan peluang berbisnis dengan modal tidak besardan tanpa perlu dipusingkan dengan urusan administrasi harian yg membosankan , dan yg bagusnya lagi yaitu dapat membeli / memiliki perusahaan dengan cara dicicil yg mana hal tersebut tidak dapat kita lakukan jika kita beli sebuah franchise yg berkwalitas baik atau tidak bisa juga dilakukan jika kita ingin punya lahan sawit namun kita tidak mau dipusingkan dengan masalah pupuk,pembibitan, hama, kwalitas tbs, harga jual tbs. Saham memberikan banyak kemudahan bagi kita yg ingin memiliki suatu usaha, namun yg perlu di ingat adalah resiko pergerakan harga yg ada disaham maka mind set kita harus selalu disamakan dengan mind set seorang pengusaha , sebagai contoh, jika pada 2005 ada seorang pengusaha baru saja buka suatu lahan perkebunan kelapa sawit dan saat tahun 2008 harga TBS (Tanda Buah Segar : Buah sawit)  jatuh sangat dalam sekali , apakah pengusaha tersebut akan langsung menutup kebun tersebut, tentu tidak , karena pengusaha tersebut memiliki perencana serta target jangka panjang yg sudah di rancang sejak awal. Maka alangkah baik nya jika kita juga melakukan hal yg sama seperti pengusaha itu , merancang / menyusun sejak awal sebelum kita memutuskan untuk terjun dalam pembelian saham suatu perusahaan dengan cara memperlajari struktur bisnis serta laporan keuangan perusahaannya serta money management kita dalam pembelian saham tersebut, jangan sampai asal beli saja.
Kesempatan untuk meraih keuntungan didunia saham selalu datang setiap hari, namun disetiap peluang yang ditawarkan selalu diiringi dengan resiko, maka menjadi tugas para profesional didunia saham (seperti saya contohnya he..he..he..) untuk memberikan bantuan dalam memanage resiko anda agar bisa mendapatkan hasil dari setiap peluang yang ditawarkan :) hais.......kok jadi malah terasa seperti iklan X__X(abaikan paragraf terakhir)

semoga corat coret saya ini dapat bermanfaat, jika ada salah kata maka mohon dimaafkan. Tulisan ini saya buat pada desember 2011 pada notes facebook saya.

Kenapa Lulusan SMP Bisa Lebih Kaya dan Lebih Makmur dibanding Lulusan S1 dan S2?

. .












Sudah dua kali blog ini menampilkan profil anak ingusan yang cuma lulusan SMP, namun hidupnya relatif makmur dan melimpah.
Yang pertama, anak ndeso lulusan SMP bernama Darmanto, yang kini jadi national internet expert dan berkantor dari rumahnya di desa Kranggil, Pemalang. Yang kedua, Afidz, lulusan SMP yang jadi juragan soto Lamongan dan bertekad segera mengumrohkan orang tuanya ke tanah suci.
Di sisi lain, kita acap melihat anak muda lulusan S1 bahkan S2 yang masih menganggur. Atau juga sudah bekerja namun dengan penghasilan pas-pasan. Bulan masih tanggal 9, gaji sudah habis. Pening deh kepala.
Pertanyaannya : kenapa bisa begitu? Kenapa anak lulusan SMP bisa lebih makmur dibanding lulusan S2? Sajian pagi ini akan menelisiknya dengan gurih dan merenyahkan.
Memang tak jarang kita melihat pemandangan yang paradoksal seperti itu : saat orang-orang yang hanya lulusan SMP bisa begitu sukses, sementara ribuan sarjana S1 dan bahkan S2 terpuruk dalam duka dan kepahitan yang mengigil.
Kenapa bisa begitu?
Ada setidaknya tiga elemen kunci yang barangkali bisa menjelaskan ironi getir semacam itu.
Faktor # 1 : The Power of Kepepet. Mungkin orang-orang lulusan SMP itu bisa sangat sukses karena faktor kepepet. Justru karena kepepet, mereka sukses. Justru karena kepepet, mereka dipaksa melakukan something yang membuat mereka bisa melenting.
Sederhana saja, ijasah mereka hanyalah lulusan SMP. Dengan ijasah SMP, perkerjaan bagus apa yang bisa diharapkan? Tak ada pilihan lain : jika mereka ingin mengubah nasib lebih makmur, pilihannya adalah melakukannya dengan jalan merintis usaha sendiri.
Mereka dipepet oleh keadaan : mau hidup miskin selamanya (karena sulit dapat kerja dengan hanya mengandalkan ijasah SMP) atau nekad membangun usaha sendiri yang berpotensi sukses besar.
Orang dengan ijasah S1 dan S2 mungkin tidak punya faktor kepepet seperti itu : ah, santai saja toh nanti saya pasti dapat pekerjaan. Dan begitu sudah dapat pekerjaan (meski dengan gaji seadanya), tetap tidak ada “faktor yang me-mepet” dirinya : ah meski gaji segini kan saya bisa tetap hidup oke.
Pelan-pelan, perasaan semacam itu membuatnya masuk zona nyaman (comfort zone). Dan persis disitu, faktor kepepet menjadi mati.
Padahal seperti yang kita lihat, faktor kepepet justru yang bisa memaksa orang – bahkan lulusan SMP sekalipun – untuk melakukan something extraordinary. Kepepet karena tidak banyak pilihan mungkin bukan kutukan. Ia justru berkah terselubung yang bisa membuat orang menapak jalan kesuksesan.
Faktor # 2 : The Darkness of Gengsi. Orang-orang lulusan SMP mungkin tidak lagi punya gengsi. Lhah cuman lulusan SMP, apa lagi yang mau dipamerkan.
Namun justru karena itu mereka tidak merasa rikuh untuk memulai usaha dari bawah sebawah-bawahnya : mulai dari pemulung misalnya, sebelum pelan-pelan merangkak menjadi juragan barang bekas.
Dan kisah orang sukses lulusan SMP banyak bermula dari jalur marginal seperti itu : mulai dari jualan gerobak bakso keliling di jalanan yang berdebu hingga punya 70 cabang. Mulai dari kuli  keceh sablon hingga punya pabrik kaos sendiri.
Lulusan S2 dan S2 mungkin tidak punya keberanian seperti itu. Lhah saya kan lulusan S2, masak suruh dorong gerobak soto lamongan. Lhah, masak saya harus keliling ke pasar-pasar jualan kaos, kan saya sudah sekolah S1 susah-susah, bayarnya mahal lagi. Apa kata dunia?? (Dunia ndasmu le).
Dan persis mentalitas gengsi seperti itu yang barangkali membuat banyak lulusan S1 dan S2 menjadi yah, gitu-gitu deh nasib hidupnya.
Orang lulusan SMP tidak punya mentalitas gengsi seperti itu. Mereka mau berkeringat di jalanan yang panas dan berdebu, demi merintis impiannya menjadi juragan yang makmur dan kaya.
Faktor # 3 : The Magic of Street Smart. Orang-orang lulusan SMP yang tak punya kemewahan berupa ijasah perguruan tinggi itu, mungkin dipaksa belajar dari kerasnya kehidupan di jalanan. Dari kerja keras mereka di jalanan yang panas dan berdebu dan penuh lika liku.
Dan dari kerja keras di jalanan yang berdebu itu mungkin anak lulusan SMP tadi justru bisa mengenal “ilmu street smart” – kecerdasan jalanan yang tak akan pernah bisa diperoleh oleh para lulusan S1 dan bahkan S2 dari ruang kuliah yang acap “berjarak dengan realitas”.
Street smart yang mereka dapatkan dari jalanan itu pelan-pelan kemudian bisa membuat mereka benar-benar lebih cerdas dibanding lulusan S1 dan bahkan S1; meski cuma lulusan SMP.
Anak lulusan SMP yang langsung berjualan gerobak soto Lamongan mungkin bisa lebih cerdas tentang “ilmu pemasaran dan manajemen pelayanan pelanggan” dibanding anak-anak lulusan S1 yang sok belajar teori tentang customer service atau branding strategy (sic!).
Street smart barangkali yang ikut menjelmakan orang-orang lulusan SMP untuk merajut jalan hidup sukses yang penuh kemakmuran.
Demikianlah, tiga elemen kunci yang boleh jadi merupakan pemicu kenapa lulusan SMP bisa lebih kaya dibanding lulusan S1 dan S2 : the power of kepepet, the darkness of gengsi dan the magic of street smart.
Bagi Anda yang lulusan S1 atau S2, dan merasa kalah sukses dibanding anak lulusan SMP; renungkan dengan cermat esensi tulisan kali ini.
Selamat bekerja, kawan. Redefine your future life. Renovate your future destiny.
Masak sih, pembaca blog strategi + manajemen yang pintar-pintar ini kok kalah sukses sama anak lulusan SMP. Sebagai blogernya, saya ikut merasa bersalah :(
- See more at: http://strategimanajemen.net/2014/05/05/kenapa-lulusan-smp-bisa-lebih-kaya-dan-lebih-makmur-dibanding-lulusan-s1-dan-s2/#sthash.7UvE2wQI.dpuf

Rabu, 12 Februari 2014

Membuat Laporan Keuangan untuk Bisnis Online: Penting atau Tidak?

Bisnis online adalah bisnis yang serupa dengan bisnis lainnya. Artinya, ada arus uang di dalamnya. Baik yang masuk, maupun yang keluar. Pemilik toko online sebaiknya memiliki laporan keuangan yang dibuat secara rutin agar setiap arus keuangan dapat tercatat dan bisa berguna sebagai alat bukti ketika terjadi suatu kejanggalan. Namun, kapankah pebisnis online memerlukan laporan keuangan?
Menurut Supardi Lee dan Noval Ramsis dalam bukunya yang berjudul “1/2 Karyawan, 1/2 Bos: 33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja”, laporan keuangan dibutuhkan oleh pedagang online ketika bisnisnya mulai tumbuh menjadi besar. Untuk bisnis yang baru dijalankan dan skala pemasukan serta pengeluarannya masih kecil, laporan keuangan belum perlu dibuat. Maksudnya, bagi penjual yang baru saja merintis usaha di dunia maya jangan sampai strategi untuk mendapatkan pembeli dalam jumlah banyak ‘direpotkan’ dengan pembuatan laporan keuangan.
Selain itu, laporan keuangan juga berguna sebagai bahan evaluasi pertumbuhan sebuah bisnis online. Penjual bisa melihat seberapa besar perkembangan yang bisa dicapai oleh bisnis online-nya dalam setiap bulan. Ada empat hal penting yang harus dicatat oleh pemilik toko online dalam laporan keuangan. Yakni, pemasukan, biaya tetap, biaya variabel, dan keuntungan.
  1. Pemasukan
    Di bagian ini, penjual dapat mencatat setiap uang yang masuk ke dalam kas bisnisnya. Mulai dari hasil penjualan produk hingga uang donasi dari seseorang. Setiap produk yang ditulis dalam bagian pemasukan sebaiknya dibedakan sesuai kategori yang telah dibuat saat awal mendirikan toko online. Misalnya, jersey anak, jersey wanita, miniatur David Beckham, dan lain sebagainya. Semua dituliskan secara rinci lengkap dengan berapa item yang terjual dan berapa harga jual per item.
  2. Biaya Tetap
    Biaya tetap adalah biaya yang pasti dan selalu dikeluarkan oleh pemilik toko onlinesetiap bulannya. Misalnya, biaya sewa gudang untuk menaruh barang dagangan, biaya pemeliharaan situs toko online, gaji untuk asisten (jika ada), biaya sewa internet, hingga biaya iklan di Google. Dengan adanya bagian ‘Biaya Tetap’, penjual dapat memperkirakan berapa jumlah uang yang harus disiapkan setiap bulannya.
  3. Biaya Variabel
    Biaya variabel merupakan biaya yang harus dibayarkan untuk mendapatkan produk yang akan dijual. Jika pemilik toko online adalah seorang reseller, berarti biaya variabel adalah biaya yang harus dibayarkan untuk mengambil produk (stok). Jika pemilik toko online memproduksi sendiri barang yang dijual, biaya variabel adalah biaya yang harus dibayarkan untuk mendapatkan bahan dasar dari barang yang ia produksi.
  4. Keuntungan dan Kerugian
    Agar penjual dapat melihat lebih jelas seberapa besar perkembangan bisnisnya, ia sebaiknya menghitung berapa keuntungan serta kerugian yang ia dapatkan setiap bulannya. Keuntungan merupakan hasil pengurangan dari ‘pemasukan’ dengan jumlah seluruh biaya (biaya tetap ditambah biaya variabel). Jika hasil pengurangannya menunjukkan angka negatif, artinya penjual mengalami kerugian sebesar angka itu.
Dari bagian ‘keuntungan dan kerugian’ penjual dapat merefleksikan dirinya. Apakah bisnisonline tersebut telah berjalan dengan sukses atau justru sedang berjalan menuju kebangkrutan. Jika jawabannya adalah yang kedua, penjual perlu menganalisa dan mencari solusi supaya bisnis online dapat berjalan lancar dan mendapatkan keuntungan. Contoh solusi yang bisa dicari dari laporan keuangan adalah mengurangi biaya tetap dengan menghilangkan biaya iklan atau dengan mengurangi gaji asisten.
***

Sumber gambar: Dave Dugdale via photopin cc

Selasa, 04 Februari 2014

Jika Anda Suka Hidup Susah dan Miskin, Tulisan ini Tidak Perlu Anda Baca


Written by yodhia Posted February 3, 2014 at 12:00 am


Dulu, tulisan saya yang berjudul : “Jika Gaji Hanya 7 juta/Bulan, Kapan Anda Bisa Beli Rumah Sendiri”, juga ramai mengundang komentar. Dari ratusan komentar yang ada, sejatinya kita bisa mengungkap salah satu misteri kunci dalam hidup : kenapa seseorang terus hidup susah dan serba kekurangan, dan kenapa yang lainnya bisa hidup berkelimpahan.
Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak Anda semua melacak dan membongkar misteri itu.
Dari ratusan komentar yang ada, terdapat tipikal satu jenis komentar yang esensinya sama. Meski dengan berbagai kalimat yang berlainan, esensi dari komentar itu bisa disarikan sbb :
“Hidup ini tidak hanya sekedar memikirkan harta mas…..ngapain punya tabungan milyaran kalau tidak bahagia, malah membuat anak-anak saling berebut harta. Hidup itu secukupnya saja, yang penting bahagia. Toh, harta tidak akan dibawa mati…..”
Tipe komentar seperti diatas juga lazim ditemui di berbagai forum dan media lainnya saat ada tulisan dengan tema kekayaan. Tidak hanya di blog ini saja. Saya berulangkali menemui komentar seperti itu di berbagai forum dan media lain.
Dan ini yang mau saya sampaikan : ada tiga kesalahan yang amat serius dengan esensi dibalik komentar yang kelihatannya sok bijak itu. Mari coba kita bongkar satu per satu.

Error #1 : Mental Block. Komentar seperti diatas sejatinya merefleksikan “alam bawah sadar” yang bernaung dibalik pikiran sang komentator.
Dan ini yang muram, bahasa alam bawah sadar yang muncul dari kalimat itu adalah ini : kekayaan adalah sesuatu yang tabu dan layak dijauhi.
Dan persis disitu masalahnya : alam bawah sadar itu bersifat laten dan amat powerful. Dan ketika alam bawah sadar itu berisikan sikap apriori terhadap harta, maka raga hidup nyata kita benar-benar akan dijauhkan dari harta dan rezeki.
Dengan kata lain, alam bawah sadar yang laten itu diam-diam menjadi “mental block” bagi raga kita untuk “berdekatan dengan harta dan kekayaan”.
Ini soal serius. Sebab jika alam bawah sadar kita bersifat apriori terhadap harta/rezeki, maka itu yang kemungkinan besar menjadi penyebab kenapa selama ini hidup kita stuck – going nowhere.
Berkali-kali saya sudah menulis tentang the power of mindset : tentang kekuatan tersembunyi dari pikiran kita. Jika pikiran kita bersikap terbuka dan apresiatif terhadap harta dan kekayaan, akan ada kekuatan positif yang akan mendekatkan kita dengan sumber-sumber rezeki yang tak terduga.
Sebaliknya, jika pikiran – apalagi alam bawah sadar kita – bersifat apriori terhadap harta (seolah-olah harta itu sumber keburukan) dan karena itu layak dijauhi, maka pikiran negatif itu akan memberikan sinyal pada alam semesta. Sinyal kuat agar hidup nyata Anda benar-benar dijauhkan dari harta dan rezeki.
Itulah kenapa kita harus berhati-hati dengan komentar seperti diatas.
Jika Anda sering berkomentar atau setuju dengan komentar seperti diatas, mungkin itu salah satu sebab kenapa : karir Anda mentok, gaji Anda ndak naik-naik, penghasilan pas-pasan, atau mau usaha tapi ndak kunjung sukses atau ndak berani memulainya.
Sebab alam bawah sadar Anda memang tidak menghendaki Anda untuk sukses dan bisa mengumpulkan tabungan sebesar 3 milyar.


Error #2 : Prasangka Negatif. Mari coba kita baca ulang petikan tipikal komentar tadi :
“Ngapain punya tabungan milyaran kalau tidak bahagia, malah membuat anak-anak saling berebut harta. Hidup itu secukupnya saja, yang penting bahagia. Toh, harta tidak akan dibawa mati…..”

Kalimat dalam komentar itu sungguh pekat dengan prasangka buruk dan kedengkian. Prasangka buruk bahwa seolah-olah harta hanya akan membawa ketidakbahagiaan dan masalah. Kedengkian yang amat halus : biar saya tidak sekaya mereka, tapi lihat, mereka hidupnya tidak bahagia.
Dan kalimat itu bukan saja pekat dengan prasangka buruk dan kedengkian, tapi juga ngawur : membuat generalisasi seolah-olah semua orang kaya pasti bermasalah dan tidak bahagia (jika komentatornya dulu ikut mata kuliah Statistik, pasti tidak akan lulus).
Nyatanya, puluhan riset empirik dengan ratusan ribu responden menunjukkan sebaliknya : kondisi finansial seseorang merupakan salah satu elemen paling kunci dalam menentukan kenyamanan dan kebahagiaan hidup.
Simpel saja : ke kantor dengan naik Fortuner sambil di-setir driver itu rasanya kok lebih nyaman dan happy dibanding harus pakai sepeda motor (kehujanan lagi) atau berjejalan di metro mini. Kalau ada yang bilang, berjejalan naik metro mini lebih membahagiakan, maka ada dua kemungkinan : orang itu sedang menghibur diri supaya hidup tidak makin pahit. Atau orang itu sedang halusinasi.
Tapi poin yang lebih serius adalah ini, komentar “…..ngapain hidup kaya, kalau hidupnya tidak bahagia” – menunjukkan kesombongan (seolah-olah gue pasti lebih happy dibanding mereka) dan prasangka buruk (seolah-olah banyak harta pasti akan membawa masalah – sebuah pikiran yang ajaib).
Dan kita tahu : kesombongan dan prasangka buruk (apalagi yang dibungkus dalam kalimat yang sok suci dan bijak) adalah resep yang akan kian menjauhkan kita dari rezeki yang berlimpah.

Error # 3 : False Assumption. Kesalahan yang terakhir ini adalah error yang paling serius. Coba simak kembali petikan komentarnya : “Hidup ini tidak hanya sekedar memikirkan harta mas. Toh, harta tidak akan dibawa mati…..”
Mengatakan “harta tidak akan dibawa mati” adalah kesalahan serius yang berangkat dari prasangka negatif tentang harta kekayaan.
Harta insya Allah akan kita bawa mati jika harta itu kita belanjakan untuk menyekolahkan 1000 anak yatim, membangun mesjid, memberangkatkan haji orang tua, sedekah untuk orang tidak mampu, membantu korban banjir, membeli 10.000 buku untuk perpustakaan, dst, dst.
You get my point, right?
Mengatakan “harta tidak akan dibawa mati” adalah salah kaprah yang berangkat dari asumsi negatif : bahwa harta hanya melulu akan dipakai foya-foya dan hura-hura. Betapa salahnya. Betapa naifnya asumsi itu.
Komentar : “toh harta tidak akan dibawa mati” sudah terlalu sering kita dengar. Sebuah kalimat, yang kembali, secara implisit berangkat dari premis bahwa harta itu penuh dengan evil (keburukan), dan karena itu layak dijauhi.
Sayangnya, premis itu tidak sesuai dengan fakta. Sejumlah riset empirik membuktikan : semakin kaya Anda, maka semakin Anda rajin dan banyak bersedekah pada orang lain.
Penelitian itu berimpitan dengan studi lainnya yang menyebut : semakin kaya Anda, maka Anda akan cenderung makin banyak bersyukur. Penelitinya menulis : kemungkinan besar, orang yang makin kaya itu makin banyak bersedekah sebagai wujud rasa syukur mereka yang makin besar (Sonya, 2007).
Demikianlah tiga jenis error yang layak dicermati dari tipikal komentar yang sudah saya sebut diatas. Apa kaitannya dengan alam bawah sadar, mindset dan sumber rezeki juga sudah di-ulik.

Be careful with your mindset. Because your mindset will define your future life.
See more at: http://strategimanajemen.net/2014/02/03/jika-anda-ingin-hidup-susah-dan-miskin-mohon-jangan-baca-tulisan-ini/#sthash.BBGpzLn9.dpuf