Senin, 11 Agustus 2014

Trisula Maut untuk Digital Personal Branding : Blog, Facebook dan Twitter


Apapun profesi Anda, entah manajer, karyawan, pemilik bisnis, arsitek, fotografer pro, penyedia jasa les privat atau juga penyedia jasa sedot WC; maka taktik digital personal branding mungkin sesuatu yang layak dilakoni dengan seksama.

Dunia telah bergerak ke arah digital. Telah lahir digital generation yang selalu berselancar dalam jagat online. Maka menancapkan personal branding dalam ranah digital landscape merupakan cara ampuh untuk melentingkan “nilai jual” Anda.
Dan di pagi yang damai ini, saya akan mencoba mengulik trisula maut dalam proses digital personal branding: perpaduan ampuh antara blog, facebook dan twitter. Apa saja jurus trisula maut itu? Dan bagaimana meraciknya dengan jitu?
Ditengah merebaknya social media seperti FB dan Twitter, saya tetap menganggap blog masih tetap merupakan medium yang relevan untuk mempromosikan kompetensi yang kita miliki dan akan kita jual.
Dalam trisula maut itu, saya memandang blog adalah ujung tombaknya. Blog adalah anchor. Blog adalah medium utama tempat dimana kita bisa mendedahkan infomasi kaya tentang kompetensi yang akan kita jual, atau produk yang akan kita promosikan.
Jika blog adalah ujung tombaknya, maka dua sayap yang menyertainya adalah facebook dan twitter. Dua social media populer ini terus digerakkan untuk menopang kebesaran reputasi sebuah blog.
Mari kita ambil contoh kasus dengan sebuah blog legendaris bernama Blog Strategi + Manajemen.
Tanpa Facebook dan Twitter, sebenarnya blog ini sudah lumayan populer. Namun karena ingin makin banyak dikunjungi, saya mencoba memanfaatkan Facebook dan Twitter untuk mempromosikan blog ini.
Begitulah saya kemudian membuat Page Blog Strategi + Manajemen; dan saat ini memiliki sekitar 22 ribu likers. Bagi yang belum nge-like, silakan like page blog strategi + manajemen, disini.
Saya kemudian juga membuat akun Twitter dengan nama @strategi_bisnis, dan sekarang memiliki sekitar 40 ribu followers. Bagi yang belum follow, silakan follow akun @strategi_bisnis disini.
Di Facebook saya lebih banyak menampilkan links ke blog Strategi + Manajemen, disertai dengan pengantar artikel yang mengundang rasa penasaran (menciptakan judul yang mengundang rasa penasaran adalah salah satu kunci untuk meningkatkan jumlah pembaca. Okey?).
Sementara di Twitter, saya rajin berbagi twit atau kultuit dengan tema-tema yang renyah, seperti gaya penulisan di blog ini. Di Twitter saya malah lebih banyak berbagi ilmu secara ringkas dan padat, bisa setiap hari (dan bukan seminggu sekali seperti di blog).
Saya rajin ngetwit kalau pas macet di jalan. Jadi semakin sering macet di jalan, semakin sering saya berbagi ilmu via twitter.
Seperti di Facebook, saya juga rajin menampilkan link artikel blog ini via Twitter.
Hasilnya cukup mengesankan. Dari data statistik blog ini, saya melihat banyak fans/followerdi Facebook atau Twitter yang meng-klik tautan artikel itu, dan otomatis trafik blog ini meningkat lumayan pesat.
Saya juga melihat, pembaca yang mengenal blog ini dari twitter/facebook – bukan dari kesasar karena Google – lebih loyal. Artinya mereka kemudian jadi pengunjung yang lumayan tetap. Bukan seperti pembaca dari Google yang hanya sekilas membaca, lalu kabur dan tak pernah kembali.
Peran Facebook dan Twitter dalam jurus trisula itu makin powerful setelah saya memasang plugin Social Share (ada di bagian bawah setiap artikel di blog ini).
Melalui plugin share itu, pembaca menjadi lebih mudah untuk men-share artikel di blog ini melalui akun social media mereka. Dan impaknya cukup ampuh. Ada sejumlah artikel yang menjadi viral, artinya di-share lebih dari 10 ribu pembacanya.
Melalui Facebook, Twitter dan Social Media Sharing itu, trafik pengunjung blog ini meningkatkan sekitar 40%, sebuah angka yang lumayan. Sekarang setiap bulan blog ini dikunjungi sekitar 100 ribu visitors.
Bukan hanya itu. Sekali lagi, pembaca yang kesini karena promosi saya di Facebook dan Twitter kemudian menjelma menjadi new loyal readers (mau berkunjung lebih dari satu kali ke blog ini dalam sebulan. Thanks.
Melalui strategi trisula ini, saya mencoba mensinergikan kekuatan Facebook, Twitter dan Blog menjadi medium yang efektif untuk membangun digital marketing strategy.
Saya selalu berusaha menjadikan tiga medium ini (Blog, Facebook dan Twitter) sebagai arena digital untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan ke sebanyak mungkin audiens.
Sebutlah itu sebuah upaya untuk menjadikan social media sebagai “powerful digital knowledge center” yang mudah-mudahan bisa membawa manfaat bagi banyak orang.




Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.
- See more at: http://strategimanajemen.net/2014/07/28/trisula-maut-untuk-digital-personal-branding-blog-facebook-dan-twitter/#sthash.LmE55RqH.dpuf

Kamis, 08 Mei 2014

tutor trading


Review ulang training trading dulu & kata coach mesti ditulis/diketik biar terjadi repetisi ato pengulangan... Trus jadi trader gak bisa malas nyatet kayak pengusaha yg punya agenda ato ctt... Support & Resistance itu paling penting dlm analisa teknikal abis trend... Cara menentukan SR:
1. Trendline
2. Bottom/Top dlm 1 periode seblmnya
3. Indikator trend kayak MA, BB, PSAR, dll. Aku sih pake EMA
4. Price Action
5. Fibonacci
Jadi cari semua SR di semua time frame... Gabungan semua akan ada SR kuat... Konfirmasi, btl kan coach Novry Simanjuntak?
Like ·  · 

Selasa, 06 Mei 2014

Simple Business

Saturday, February 16, 2013


Simple Business

Waktu saya kecil, saya bercita-cita untuk memiliki sebuah usaha sendiri
Saat saya beranjak dewasa, disaat kuliah saya mempelajari management bisnis, management keuangan dan sebangsa nya.Namun statistik menyatakan bahwa peluang gagal sebuah bisnis di 2 tahun pertamanya adalah 80% (sumber : klik disini).
Banyak masalah yang menyebabkan gagalnya sebuah bisnis, seperti :
  • Kurangnya pengalaman bisnis dikala muda,  
  • Masalah pendanaan, 
  • Masalah mengatasi karyawan / sumber daya manusia
  • Persaingan bisnis dengan kompetitor 
  • Dsb...
Semua orang mesti belajar dari awal walaupun punya modal besar sekalipun tetap mesti belajar, mesti merasakan sakit dan jatuh bangun , karena jarang sekali yg langsung sukses pada usaha pertamanya. Saya pun pernah gagal dalam bisnis yang dikarenakan masalah dengan cashflow karena piutang usaha yang banyak gagal tertagih he...he...he...
Kemudian saya melirik bisnis disaham, saya melihat banyak sekali persamaan dengan sektor real, namun saya melihat juga adanya sedikit keunggulan yg lebih baik dari sektor real, yaitu :
  • Waktu mengawasi nya yang lebih fleksibel
  • Tidak perlu khawatir akan persaingan dengan kompetitor, karena tidak ada kompetitor :)
  • Tidak perlu modal yang besar sekali
  • Tidak perlu tempat / wadah usaha yang besar, cukup dengan sebuah laptop dan koneksi internet
  • Tidak perlu gudang untuk penyimpanan barang, apalagi brankas, saat ini harga brankas yang bagus saja minimal 20jt - 25jt an, mengapa saya patok dengan harga minimal sekian, karena saya tau titik lemah brankas yang harga nya dibawah itu :)
  • Tidak perlu showroom atau tempat display atau etalase untuk memajang barang dagangan
  • Dan bagian yang terbaik dari bisnis saham adalah dapat dilakukan walaupun kita masih sebagai karyawan , karena bisnis saham tidak menyita banyak waktu.

Melihat orang terkaya di indonesia saat ini, yaitu keluarga Djarum
Mengapa keluarga yg kaya seperti itu , tidak membangun usaha baru sebagai pelengkap atas usaha rokoknya yg sudah ada....Djarum malah membeli perusahaan yg sudah jadi yaitu Bank BCA.
Mengapa TEMASEK holding (perusahaan singapore) kurang sekali minat dalam membuat usaha baru dari nol , tapi malah asik caplok atau membeli saham perusahaan lain yg sudah ada, khususnya di indonesia.
Mengapa Warren Buffet juga sama seperti Temasek dan barusan saja Warren Buffet membeli saham perusahaan saus yang berumur 144 tahun , HJ Heinz Co senilai Rp.224 Trilliun !!!. Heinz merupakan induk perusahaan saus terkenal di indonesia yaitu saus tomat ABC.
Mengapa Lo keng Hoo juga sama seperti Buffet yg asik beli saham perusahaan yg sudah jadi , bukan mendirikan satu perusahaan baru dari awal.

Lihat Kentucky Fried Chicken (KFC), di kota saya, sejak saya kecil, saya suka sekali makan disana wkwkwkwkw sampai membuat saya berangan-angan untuk punya KFC sendiri, namun apa daya , butuh modal milyaran T__T. Saya juga suka minum kopi, ingin punya Starbuck , namun apa daya T__T.
Dengan Saham dapat memberikan jawaban atas ketidakmampuan permodalan saya di sektor real, karena disaham kita bisa memiliki perusahaan tersebut tanpa harus dengan modal yg besar.
Pemikiran sederhananya adalah hanya dengan modal kecil namun bisa ikut memiliki perusahaan tersebut dan tidak perlu ikut dengan urusan ribet nya setiap bulan seperti : 
  • urusan membayar gaji karyawan, 
  • urusan stock barang, 
  • urusan tenaga kerja , 
  • urusan menekan cost produksi dan lain sebagainya, saya hanya perlu menjadi silent partner saja wkwkwkwkwkw
Dan disaham, jika terjadi keadaan yg buruk pada perusahaan maka sahamnya dapat dijual dalam sekejap, beda dengan bisnis real yg sulit sekali jika kita ingin keluar dari bisnis yang kita bangun tersebut karena banyak urusan yg harus diselesaikan sebelum kita tutup.

Para pembaca yang terkasih, disaat negara indonesia yg sedang makmur nya sekarang ini (berdasarkan data ekonomi) maka jangan sampai kita ketinggalan,jangan sampai hanya orang lain atau sebagian kecil saja yg bisa menikmati saat-saat termakmur negara ini.
  • Jangan sampai kita hanya bisa minum kopi saja di Starbuck tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan tersebut. Mitra Adiperkasa (2011 awal) Rp.2.775 saat ini Rp.6.850  +146%
  • Jangan sampai kita hanya bisa beli motor atau mobil saja di Astra tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan tersebut.Astra Internasional (2011 awal) Rp.5.400 saat ini Rp. 7.750 +43%
  • Jangan sampai kita hanya bisa memarkir saja uang kita di bank tanpa ikut menikmati keuntungan bank tersebut dalam memanfaat dana kita yg dititipkan disana. Bank BCA (2011 awal) Rp.6.450 saat ini Rp. 10.000  +55% 
  • Jangan sampai kita hanya bisa menggunakan produk Unilever saja tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan tersebut.Unilever (2011 awal) Rp.16.000 saat ini Rp.23.000  +43%
  • Jangan sampai kita hanya bisa merokok saja tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan rokok tersebut.Sampoerna (2011 awal) Rp.28.000 saat ini Rp.72.000 +150%
  • Jangan sampai kita hanya bisa makan ayam saja tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan pakan ternak yang memasok ke peternakan ayam. Charoen Pokphand (2011 awal) Rp.1,800 saat ini Rp.4.200  +133%
  • Jangan sampai kita hanya bisa melewati tol dan membayar tarif tol tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan tol tersebut.Jasa Marga (2011 awal) Rp.3.500 saat ini Rp.5.500  +57%
  • Jangan sampai kita hanya bisa minum food suplement saja tanpa ikut menikmati keuntungan perusahaan yg memproduksinya tersebut. Kalbe Farma (2011 awal)  Rp660 saat ini Rp.1.130  +71%
Saham memberikan peluang berbisnis dengan modal tidak besardan tanpa perlu dipusingkan dengan urusan administrasi harian yg membosankan , dan yg bagusnya lagi yaitu dapat membeli / memiliki perusahaan dengan cara dicicil yg mana hal tersebut tidak dapat kita lakukan jika kita beli sebuah franchise yg berkwalitas baik atau tidak bisa juga dilakukan jika kita ingin punya lahan sawit namun kita tidak mau dipusingkan dengan masalah pupuk,pembibitan, hama, kwalitas tbs, harga jual tbs. Saham memberikan banyak kemudahan bagi kita yg ingin memiliki suatu usaha, namun yg perlu di ingat adalah resiko pergerakan harga yg ada disaham maka mind set kita harus selalu disamakan dengan mind set seorang pengusaha , sebagai contoh, jika pada 2005 ada seorang pengusaha baru saja buka suatu lahan perkebunan kelapa sawit dan saat tahun 2008 harga TBS (Tanda Buah Segar : Buah sawit)  jatuh sangat dalam sekali , apakah pengusaha tersebut akan langsung menutup kebun tersebut, tentu tidak , karena pengusaha tersebut memiliki perencana serta target jangka panjang yg sudah di rancang sejak awal. Maka alangkah baik nya jika kita juga melakukan hal yg sama seperti pengusaha itu , merancang / menyusun sejak awal sebelum kita memutuskan untuk terjun dalam pembelian saham suatu perusahaan dengan cara memperlajari struktur bisnis serta laporan keuangan perusahaannya serta money management kita dalam pembelian saham tersebut, jangan sampai asal beli saja.
Kesempatan untuk meraih keuntungan didunia saham selalu datang setiap hari, namun disetiap peluang yang ditawarkan selalu diiringi dengan resiko, maka menjadi tugas para profesional didunia saham (seperti saya contohnya he..he..he..) untuk memberikan bantuan dalam memanage resiko anda agar bisa mendapatkan hasil dari setiap peluang yang ditawarkan :) hais.......kok jadi malah terasa seperti iklan X__X(abaikan paragraf terakhir)

semoga corat coret saya ini dapat bermanfaat, jika ada salah kata maka mohon dimaafkan. Tulisan ini saya buat pada desember 2011 pada notes facebook saya.

Kenapa Lulusan SMP Bisa Lebih Kaya dan Lebih Makmur dibanding Lulusan S1 dan S2?

. .












Sudah dua kali blog ini menampilkan profil anak ingusan yang cuma lulusan SMP, namun hidupnya relatif makmur dan melimpah.
Yang pertama, anak ndeso lulusan SMP bernama Darmanto, yang kini jadi national internet expert dan berkantor dari rumahnya di desa Kranggil, Pemalang. Yang kedua, Afidz, lulusan SMP yang jadi juragan soto Lamongan dan bertekad segera mengumrohkan orang tuanya ke tanah suci.
Di sisi lain, kita acap melihat anak muda lulusan S1 bahkan S2 yang masih menganggur. Atau juga sudah bekerja namun dengan penghasilan pas-pasan. Bulan masih tanggal 9, gaji sudah habis. Pening deh kepala.
Pertanyaannya : kenapa bisa begitu? Kenapa anak lulusan SMP bisa lebih makmur dibanding lulusan S2? Sajian pagi ini akan menelisiknya dengan gurih dan merenyahkan.
Memang tak jarang kita melihat pemandangan yang paradoksal seperti itu : saat orang-orang yang hanya lulusan SMP bisa begitu sukses, sementara ribuan sarjana S1 dan bahkan S2 terpuruk dalam duka dan kepahitan yang mengigil.
Kenapa bisa begitu?
Ada setidaknya tiga elemen kunci yang barangkali bisa menjelaskan ironi getir semacam itu.
Faktor # 1 : The Power of Kepepet. Mungkin orang-orang lulusan SMP itu bisa sangat sukses karena faktor kepepet. Justru karena kepepet, mereka sukses. Justru karena kepepet, mereka dipaksa melakukan something yang membuat mereka bisa melenting.
Sederhana saja, ijasah mereka hanyalah lulusan SMP. Dengan ijasah SMP, perkerjaan bagus apa yang bisa diharapkan? Tak ada pilihan lain : jika mereka ingin mengubah nasib lebih makmur, pilihannya adalah melakukannya dengan jalan merintis usaha sendiri.
Mereka dipepet oleh keadaan : mau hidup miskin selamanya (karena sulit dapat kerja dengan hanya mengandalkan ijasah SMP) atau nekad membangun usaha sendiri yang berpotensi sukses besar.
Orang dengan ijasah S1 dan S2 mungkin tidak punya faktor kepepet seperti itu : ah, santai saja toh nanti saya pasti dapat pekerjaan. Dan begitu sudah dapat pekerjaan (meski dengan gaji seadanya), tetap tidak ada “faktor yang me-mepet” dirinya : ah meski gaji segini kan saya bisa tetap hidup oke.
Pelan-pelan, perasaan semacam itu membuatnya masuk zona nyaman (comfort zone). Dan persis disitu, faktor kepepet menjadi mati.
Padahal seperti yang kita lihat, faktor kepepet justru yang bisa memaksa orang – bahkan lulusan SMP sekalipun – untuk melakukan something extraordinary. Kepepet karena tidak banyak pilihan mungkin bukan kutukan. Ia justru berkah terselubung yang bisa membuat orang menapak jalan kesuksesan.
Faktor # 2 : The Darkness of Gengsi. Orang-orang lulusan SMP mungkin tidak lagi punya gengsi. Lhah cuman lulusan SMP, apa lagi yang mau dipamerkan.
Namun justru karena itu mereka tidak merasa rikuh untuk memulai usaha dari bawah sebawah-bawahnya : mulai dari pemulung misalnya, sebelum pelan-pelan merangkak menjadi juragan barang bekas.
Dan kisah orang sukses lulusan SMP banyak bermula dari jalur marginal seperti itu : mulai dari jualan gerobak bakso keliling di jalanan yang berdebu hingga punya 70 cabang. Mulai dari kuli  keceh sablon hingga punya pabrik kaos sendiri.
Lulusan S2 dan S2 mungkin tidak punya keberanian seperti itu. Lhah saya kan lulusan S2, masak suruh dorong gerobak soto lamongan. Lhah, masak saya harus keliling ke pasar-pasar jualan kaos, kan saya sudah sekolah S1 susah-susah, bayarnya mahal lagi. Apa kata dunia?? (Dunia ndasmu le).
Dan persis mentalitas gengsi seperti itu yang barangkali membuat banyak lulusan S1 dan S2 menjadi yah, gitu-gitu deh nasib hidupnya.
Orang lulusan SMP tidak punya mentalitas gengsi seperti itu. Mereka mau berkeringat di jalanan yang panas dan berdebu, demi merintis impiannya menjadi juragan yang makmur dan kaya.
Faktor # 3 : The Magic of Street Smart. Orang-orang lulusan SMP yang tak punya kemewahan berupa ijasah perguruan tinggi itu, mungkin dipaksa belajar dari kerasnya kehidupan di jalanan. Dari kerja keras mereka di jalanan yang panas dan berdebu dan penuh lika liku.
Dan dari kerja keras di jalanan yang berdebu itu mungkin anak lulusan SMP tadi justru bisa mengenal “ilmu street smart” – kecerdasan jalanan yang tak akan pernah bisa diperoleh oleh para lulusan S1 dan bahkan S2 dari ruang kuliah yang acap “berjarak dengan realitas”.
Street smart yang mereka dapatkan dari jalanan itu pelan-pelan kemudian bisa membuat mereka benar-benar lebih cerdas dibanding lulusan S1 dan bahkan S1; meski cuma lulusan SMP.
Anak lulusan SMP yang langsung berjualan gerobak soto Lamongan mungkin bisa lebih cerdas tentang “ilmu pemasaran dan manajemen pelayanan pelanggan” dibanding anak-anak lulusan S1 yang sok belajar teori tentang customer service atau branding strategy (sic!).
Street smart barangkali yang ikut menjelmakan orang-orang lulusan SMP untuk merajut jalan hidup sukses yang penuh kemakmuran.
Demikianlah, tiga elemen kunci yang boleh jadi merupakan pemicu kenapa lulusan SMP bisa lebih kaya dibanding lulusan S1 dan S2 : the power of kepepet, the darkness of gengsi dan the magic of street smart.
Bagi Anda yang lulusan S1 atau S2, dan merasa kalah sukses dibanding anak lulusan SMP; renungkan dengan cermat esensi tulisan kali ini.
Selamat bekerja, kawan. Redefine your future life. Renovate your future destiny.
Masak sih, pembaca blog strategi + manajemen yang pintar-pintar ini kok kalah sukses sama anak lulusan SMP. Sebagai blogernya, saya ikut merasa bersalah :(
- See more at: http://strategimanajemen.net/2014/05/05/kenapa-lulusan-smp-bisa-lebih-kaya-dan-lebih-makmur-dibanding-lulusan-s1-dan-s2/#sthash.7UvE2wQI.dpuf