Kamis, 24 April 2014
Rabu, 16 April 2014
Rabu, 12 Februari 2014
Membuat Laporan Keuangan untuk Bisnis Online: Penting atau Tidak?
Bisnis online adalah bisnis yang serupa dengan bisnis lainnya. Artinya, ada arus uang di dalamnya. Baik yang masuk, maupun yang keluar. Pemilik toko online sebaiknya memiliki laporan keuangan yang dibuat secara rutin agar setiap arus keuangan dapat tercatat dan bisa berguna sebagai alat bukti ketika terjadi suatu kejanggalan. Namun, kapankah pebisnis online memerlukan laporan keuangan?
Menurut Supardi Lee dan Noval Ramsis dalam bukunya yang berjudul “1/2 Karyawan, 1/2 Bos: 33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja”, laporan keuangan dibutuhkan oleh pedagang online ketika bisnisnya mulai tumbuh menjadi besar. Untuk bisnis yang baru dijalankan dan skala pemasukan serta pengeluarannya masih kecil, laporan keuangan belum perlu dibuat. Maksudnya, bagi penjual yang baru saja merintis usaha di dunia maya jangan sampai strategi untuk mendapatkan pembeli dalam jumlah banyak ‘direpotkan’ dengan pembuatan laporan keuangan.
Selain itu, laporan keuangan juga berguna sebagai bahan evaluasi pertumbuhan sebuah bisnis online. Penjual bisa melihat seberapa besar perkembangan yang bisa dicapai oleh bisnis online-nya dalam setiap bulan. Ada empat hal penting yang harus dicatat oleh pemilik toko online dalam laporan keuangan. Yakni, pemasukan, biaya tetap, biaya variabel, dan keuntungan.
- PemasukanDi bagian ini, penjual dapat mencatat setiap uang yang masuk ke dalam kas bisnisnya. Mulai dari hasil penjualan produk hingga uang donasi dari seseorang. Setiap produk yang ditulis dalam bagian pemasukan sebaiknya dibedakan sesuai kategori yang telah dibuat saat awal mendirikan toko online. Misalnya, jersey anak, jersey wanita, miniatur David Beckham, dan lain sebagainya. Semua dituliskan secara rinci lengkap dengan berapa item yang terjual dan berapa harga jual per item.
- Biaya TetapBiaya tetap adalah biaya yang pasti dan selalu dikeluarkan oleh pemilik toko onlinesetiap bulannya. Misalnya, biaya sewa gudang untuk menaruh barang dagangan, biaya pemeliharaan situs toko online, gaji untuk asisten (jika ada), biaya sewa internet, hingga biaya iklan di Google. Dengan adanya bagian ‘Biaya Tetap’, penjual dapat memperkirakan berapa jumlah uang yang harus disiapkan setiap bulannya.
- Biaya VariabelBiaya variabel merupakan biaya yang harus dibayarkan untuk mendapatkan produk yang akan dijual. Jika pemilik toko online adalah seorang reseller, berarti biaya variabel adalah biaya yang harus dibayarkan untuk mengambil produk (stok). Jika pemilik toko online memproduksi sendiri barang yang dijual, biaya variabel adalah biaya yang harus dibayarkan untuk mendapatkan bahan dasar dari barang yang ia produksi.
- Keuntungan dan KerugianAgar penjual dapat melihat lebih jelas seberapa besar perkembangan bisnisnya, ia sebaiknya menghitung berapa keuntungan serta kerugian yang ia dapatkan setiap bulannya. Keuntungan merupakan hasil pengurangan dari ‘pemasukan’ dengan jumlah seluruh biaya (biaya tetap ditambah biaya variabel). Jika hasil pengurangannya menunjukkan angka negatif, artinya penjual mengalami kerugian sebesar angka itu.
Dari bagian ‘keuntungan dan kerugian’ penjual dapat merefleksikan dirinya. Apakah bisnisonline tersebut telah berjalan dengan sukses atau justru sedang berjalan menuju kebangkrutan. Jika jawabannya adalah yang kedua, penjual perlu menganalisa dan mencari solusi supaya bisnis online dapat berjalan lancar dan mendapatkan keuntungan. Contoh solusi yang bisa dicari dari laporan keuangan adalah mengurangi biaya tetap dengan menghilangkan biaya iklan atau dengan mengurangi gaji asisten.
***
Selasa, 04 Februari 2014
Jika Anda Suka Hidup Susah dan Miskin, Tulisan ini Tidak Perlu Anda Baca
Written by yodhia Posted February 3, 2014 at 12:00 am
Dulu, tulisan saya yang berjudul : “Jika Gaji Hanya 7 juta/Bulan, Kapan Anda Bisa Beli Rumah Sendiri”, juga ramai mengundang komentar. Dari ratusan komentar yang ada, sejatinya kita bisa mengungkap salah satu misteri kunci dalam hidup : kenapa seseorang terus hidup susah dan serba kekurangan, dan kenapa yang lainnya bisa hidup berkelimpahan.
Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak Anda semua melacak dan membongkar misteri itu.
Dari ratusan komentar yang ada, terdapat tipikal satu jenis komentar yang esensinya sama. Meski dengan berbagai kalimat yang berlainan, esensi dari komentar itu bisa disarikan sbb :
“Hidup ini tidak hanya sekedar memikirkan harta mas…..ngapain punya tabungan milyaran kalau tidak bahagia, malah membuat anak-anak saling berebut harta. Hidup itu secukupnya saja, yang penting bahagia. Toh, harta tidak akan dibawa mati…..”
Tipe komentar seperti diatas juga lazim ditemui di berbagai forum dan media lainnya saat ada tulisan dengan tema kekayaan. Tidak hanya di blog ini saja. Saya berulangkali menemui komentar seperti itu di berbagai forum dan media lain.
Dan ini yang mau saya sampaikan : ada tiga kesalahan yang amat serius dengan esensi dibalik komentar yang kelihatannya sok bijak itu. Mari coba kita bongkar satu per satu.
Error #1 : Mental Block. Komentar seperti diatas sejatinya merefleksikan “alam bawah sadar” yang bernaung dibalik pikiran sang komentator.
Dan ini yang muram, bahasa alam bawah sadar yang muncul dari kalimat itu adalah ini : kekayaan adalah sesuatu yang tabu dan layak dijauhi.
Dan persis disitu masalahnya : alam bawah sadar itu bersifat laten dan amat powerful. Dan ketika alam bawah sadar itu berisikan sikap apriori terhadap harta, maka raga hidup nyata kita benar-benar akan dijauhkan dari harta dan rezeki.
Dengan kata lain, alam bawah sadar yang laten itu diam-diam menjadi “mental block” bagi raga kita untuk “berdekatan dengan harta dan kekayaan”.
Ini soal serius. Sebab jika alam bawah sadar kita bersifat apriori terhadap harta/rezeki, maka itu yang kemungkinan besar menjadi penyebab kenapa selama ini hidup kita stuck – going nowhere.
Berkali-kali saya sudah menulis tentang the power of mindset : tentang kekuatan tersembunyi dari pikiran kita. Jika pikiran kita bersikap terbuka dan apresiatif terhadap harta dan kekayaan, akan ada kekuatan positif yang akan mendekatkan kita dengan sumber-sumber rezeki yang tak terduga.
Sebaliknya, jika pikiran – apalagi alam bawah sadar kita – bersifat apriori terhadap harta (seolah-olah harta itu sumber keburukan) dan karena itu layak dijauhi, maka pikiran negatif itu akan memberikan sinyal pada alam semesta. Sinyal kuat agar hidup nyata Anda benar-benar dijauhkan dari harta dan rezeki.
Itulah kenapa kita harus berhati-hati dengan komentar seperti diatas.
Jika Anda sering berkomentar atau setuju dengan komentar seperti diatas, mungkin itu salah satu sebab kenapa : karir Anda mentok, gaji Anda ndak naik-naik, penghasilan pas-pasan, atau mau usaha tapi ndak kunjung sukses atau ndak berani memulainya.
Sebab alam bawah sadar Anda memang tidak menghendaki Anda untuk sukses dan bisa mengumpulkan tabungan sebesar 3 milyar.
Error #2 : Prasangka Negatif. Mari coba kita baca ulang petikan tipikal komentar tadi :
“Ngapain punya tabungan milyaran kalau tidak bahagia, malah membuat anak-anak saling berebut harta. Hidup itu secukupnya saja, yang penting bahagia. Toh, harta tidak akan dibawa mati…..”
Kalimat dalam komentar itu sungguh pekat dengan prasangka buruk dan kedengkian. Prasangka buruk bahwa seolah-olah harta hanya akan membawa ketidakbahagiaan dan masalah. Kedengkian yang amat halus : biar saya tidak sekaya mereka, tapi lihat, mereka hidupnya tidak bahagia.
Dan kalimat itu bukan saja pekat dengan prasangka buruk dan kedengkian, tapi juga ngawur : membuat generalisasi seolah-olah semua orang kaya pasti bermasalah dan tidak bahagia (jika komentatornya dulu ikut mata kuliah Statistik, pasti tidak akan lulus).
Nyatanya, puluhan riset empirik dengan ratusan ribu responden menunjukkan sebaliknya : kondisi finansial seseorang merupakan salah satu elemen paling kunci dalam menentukan kenyamanan dan kebahagiaan hidup.
Simpel saja : ke kantor dengan naik Fortuner sambil di-setir driver itu rasanya kok lebih nyaman dan happy dibanding harus pakai sepeda motor (kehujanan lagi) atau berjejalan di metro mini. Kalau ada yang bilang, berjejalan naik metro mini lebih membahagiakan, maka ada dua kemungkinan : orang itu sedang menghibur diri supaya hidup tidak makin pahit. Atau orang itu sedang halusinasi.
Tapi poin yang lebih serius adalah ini, komentar “…..ngapain hidup kaya, kalau hidupnya tidak bahagia” – menunjukkan kesombongan (seolah-olah gue pasti lebih happy dibanding mereka) dan prasangka buruk (seolah-olah banyak harta pasti akan membawa masalah – sebuah pikiran yang ajaib).
Dan kita tahu : kesombongan dan prasangka buruk (apalagi yang dibungkus dalam kalimat yang sok suci dan bijak) adalah resep yang akan kian menjauhkan kita dari rezeki yang berlimpah.
Error # 3 : False Assumption. Kesalahan yang terakhir ini adalah error yang paling serius. Coba simak kembali petikan komentarnya : “Hidup ini tidak hanya sekedar memikirkan harta mas. Toh, harta tidak akan dibawa mati…..”
Mengatakan “harta tidak akan dibawa mati” adalah kesalahan serius yang berangkat dari prasangka negatif tentang harta kekayaan.
Harta insya Allah akan kita bawa mati jika harta itu kita belanjakan untuk menyekolahkan 1000 anak yatim, membangun mesjid, memberangkatkan haji orang tua, sedekah untuk orang tidak mampu, membantu korban banjir, membeli 10.000 buku untuk perpustakaan, dst, dst.
You get my point, right?
Mengatakan “harta tidak akan dibawa mati” adalah salah kaprah yang berangkat dari asumsi negatif : bahwa harta hanya melulu akan dipakai foya-foya dan hura-hura. Betapa salahnya. Betapa naifnya asumsi itu.
Komentar : “toh harta tidak akan dibawa mati” sudah terlalu sering kita dengar. Sebuah kalimat, yang kembali, secara implisit berangkat dari premis bahwa harta itu penuh dengan evil (keburukan), dan karena itu layak dijauhi.
Sayangnya, premis itu tidak sesuai dengan fakta. Sejumlah riset empirik membuktikan : semakin kaya Anda, maka semakin Anda rajin dan banyak bersedekah pada orang lain.
Penelitian itu berimpitan dengan studi lainnya yang menyebut : semakin kaya Anda, maka Anda akan cenderung makin banyak bersyukur. Penelitinya menulis : kemungkinan besar, orang yang makin kaya itu makin banyak bersedekah sebagai wujud rasa syukur mereka yang makin besar (Sonya, 2007).
Demikianlah tiga jenis error yang layak dicermati dari tipikal komentar yang sudah saya sebut diatas. Apa kaitannya dengan alam bawah sadar, mindset dan sumber rezeki juga sudah di-ulik.
Be careful with your mindset. Because your mindset will define your future life.
See more at: http://strategimanajemen.net/2014/02/03/jika-anda-ingin-hidup-susah-dan-miskin-mohon-jangan-baca-tulisan-ini/#sthash.BBGpzLn9.dpuf
Kamis, 16 Januari 2014
Jumat, 20 Desember 2013
Case Study – Random Entry & Risk Reward in Forex Trading
A Case Study of Random Entry & Risk Reward
Over the last two weeks I have conducted a trading experiment in order to prove a point to anyone out there who might be in doubt of the power of risk reward combined with price action trading strategies. This article will take you on a journey into my mind and will hopefully prove to you that if you simply implement proper risk reward and have a willingness to learn a high probability trading strategy like price action, you have all the ingredients to become a consistently profitable forex trader. This article will open your eyes, I suggest you read it, start to learn about the concepts discussed.
The experiment:
In order to first demonstrate and prove the power of risk reward, I decided to randomly enter 20 trades over the last 2 weeks in the EURUSD, GBPUSD, and AUDUSD on a demo account. No price action setups were used, nor was there any method or strategy of any kind implemented when entering the market. The parameters were simply to enter one of the above three currency pairs a total of 20 times within 10 trading days using a stop loss of 50 pips and a target of 100 pips for each trade, making a risk reward of 1 to 2 on every setup. I did not “mess” with any trade once it was entered, I employed pure set and forget forex trading in this experiment; I simply entered and then let the market do its thing, in order to prove the power of risk reward. (Note, the 20th trade was at breakeven at the time of this writing and I did not have time to wait for it to close out, I counted it as a winner, I will update this article if it ends up becoming a loser when it closes, although this will not change any of the implications or insights of this article.)
While this experiment was meant to prove the power of risk reward, it was also meant to prove the power of price action trading strategies combined with risk reward. My results showed a small profit after entering randomly 20 times with a risk reward of 1 to 2 on every trade, this after having lost 12 out of 20 trades. This means my winning percentage for this series of trades was 40%, so I lost on 60% of the trades and won on only 40% as you can see by the trade history below , this random entry model combined with a 1 to 2 risk reward still profited about $200, this with no edge applied at all.
What is the lesson to learn here?
While the trade history above certainly proves the true power of risk reward, we have to ask ourselves how much better we could do by applying a true edge in the market, like the edge we get from trading price action setups. When combined with experience and education, price action trading strategies can certainly provide you with trade setups that give you a better than 50% probability in the market, assuming you apply discretion and do not over-trade. So, if we assume we can attain at least a 50% win rate by using simple price action strategies like the ones that I teach, and we use a risk reward of at least 1 to 2 on every trade, over a series of 20 trades where we risk $50 per trade, we would make a profit of $500 ($1000 in winnings – $500 in losses).
So, we know that risk reward strategies work, there is no doubt about that at all; you randomly enter the market and if you make at least 2 times your risk on your winning trades, you will likely breakeven or turn a small profit over a series of trades. When we combine this knowledge of the power of risk to reward with a high-probability edge like price action, what we have is a professional money management and trading strategy, which when combined with the proper education and discretion will make money over a series of at least 20 trades or more.
Professional traders know that their winners have to out-pace their losers to make money, because most professional traders only win about 50% of the time. If you have no edge in the market that can get you to the point of winning at least around 50% of your trades, you are probably going to only breakeven over any series of trades, assuming you still implement a risk reward of at least 1 to 2. Most traders do not implement risk reward properly; they take profits of less than 2 times risk which inherently forces them to have a very high overall winning percentage to make money. By taking a profit of less than 2 times risk, you are basically PURPOSESLY putting the odds against you, because you then will have to win over 50% of your trades to make money, and most trading strategies do not give you an edge that will allow you to consistently win over 50% of your trades.
A high quality price action setup allows you to set and forget your trading while still giving you a higher than 50% chance of winning any given setup. What this means is that with price action and risk reward you have a nearly stress-free way to trade the market; you can wait patiently for obvious price action setups that develop from confluent areas and/or in trending markets, enter a risk reward of 1 to 2, and walk away until the trade is closed. If you actually do this with discipline, by only taking obvious price action setups and rigidly implementing a risk reward of at last 1 to 2, you will become profitable over a series of trades.
The key is to not get discouraged if you hit a few losers or become over-confident if you hit a few winners. What if you lose on the first 8 trades out of 20? Look at the results of my trading experiment above; did you notice that I lost on 9 trades in a row before hitting a series of winners? This is called trading, and sometimes you will hit a string of losers or a string of winners, but you can’t let this influence your forex trading plan, you have to have a longer-term outlook and remind yourself that your edge, combined with risk reward, needs time to play out.
Obtaining the proper training is the key.
Other than being able to control your emotions and remaining disciplined enough on a consistent basis to not over-leverage or over-trade and implement proper risk reward on every trade, the biggest variable that can influence your trading success is whether or not you know what your edge is and when you should trade it. This is where proper forex trading education on a high-probability trading strategy like price action comes in. I have been successfully using simple yet effective price action setups to trade the markets now for years, and I teach other traders exactly how I trade in my forex trading course. My course and it’s teachings not only give you a trading strategy, but it shows you when to use the strategy and what the market should look like before you enter.
When you combine my price action setups with a thorough knowledge of risk reward implementation and a mastery of trading plain vanilla price charts, you will begin to think like a professional trader. Pro traders see the market in a completely different way than amateurs do; they do not over complicate anything. First they check the market to see if their trading edge is present; if it is not present then they leave the computer or not look at the charts for a period of time, typically at least 4 hours. If their trading edge is present, they will then move on to the next factor to check; whether or not a risk reward of at least 1 to 2 is logically attainable. If a risk reward of 1 to 2 is attainable then they enter the trade and walk away, that’s it. The reason a professional trader thinks and trades like this is because they don’t get attached to any one trade; they know that each trade is just one out of a series of many that they must take in order to see their edge play out. Amateur traders get caught up on each trade; they react to the emotion of each loser or winner because they simply cannot see the forest for the trees, typically due to a lack of experience and insight.
My trading course and price action trader’s community gives you the insight you need to become a successful discretionary price action trader, the experience is something you must develop on your own from the tools and education that I provide. When you combine the price action and risk reward strategies that I teach with a healthy dose of self-discipline and trading experience, there is virtually nothing that can stand in your way except your own lack of self-control. If you would like to learn more about how I trade the market with price action setups and risk reward scenarios, please check out my price action forex trading course.
Selasa, 17 Desember 2013
TWEEPS
![]() | @theRealKiyosaki | ||||||||||||||
Look for your mistake; do not run from it.
| |||||||||||||||
Minggu, 15 Desember 2013
Langganan:
Postingan (Atom)


