Selasa, 29 Agustus 2017

Cara membuat Pas Foto menggunakan Photoshop

By  — Editor dan penulis di MahirOffice.com, kritik, saran dan masukan silakan kirim ke mahirofficedotcom@gmail.com.
Pas foto adalah foto kecil yang merupakan identitas diri yang memuat foto mulai dari kepala sampai dada, di Indonesia pas foto memiliki tiga ukuran standar diantaranya adalah 2×3, 3×4 dan 4×6. Juga populer dengan dua latar berbeda yaitu biru dan merah. Biasanya pas foto berwarna biru dan merah digunakan untuk Kartu Tanda Penduduk (KTP). Dimana pas foto latar biru menandakan pemilik KTP dengan tahun kelahiran genap dan pas foto latar merah menandakan pemilik KTP dengan tahun kelahiran ganjil.
Penggunaan Pas foto di Indonesia
  1. Pas foto 2×3 memiliki ukuran 20 x 28mm dan biasa digunakan pada Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemdui (SIM) dan Buku Nikah;
  2. Pas foto 3×4 memiliki ukuran 28 x 38mm merupakan ukuran yang paling sering digunakan dalam berbagai keperluan sehari-hari seperti penggunaan untuk Daftar Riwayat Hidup, Foto pada Ijazah dan Sertifikat;
  3. Pas foto 4×6 memiliki ukuran 38 x 58mm dan biasa digunakan pada saat membuat Surat Kelakuan Catatan Kepolisian (SKCK).
Cara membuat pas foto pada Photoshop bukanlah hal yang sulit, terdapat banyak cara untuk memanipulasi foto menggunakan aplikasi yang satu ini. Salah satunya yaitu dengan metode yang akan kita gunakan pada pembahasan kali ini. Selain merubah background, juga akan menggunakan beberapa tools lain seperti memotong foto dan menghaluskan hasil editan agar terlihat lebih realistis.
Anggap saja kita telah memiliki satu buah foto yang siap untuk di edit dan dijadikan pas foto. Untuk latihan Anda dapat menggunakan foto Mbak Meyda Sefira, silakan unduh disini. Pertama, silakan buka aplikasi Photoshop pada komputer Anda. Pada tulisan ini saya menggunakan aplikasi Adobe Photoshop 2015 yang berjalan pada sistem operasi Windows 10. Buka foto dengan cara klik menu File > Open…

Cara Crop foto menggunakan Photoshop

Sebagai contoh, kita akan membuat pas foto 3×4 dengan ukuran 28 x 38mm. Pada Tool Box silakan pilih ikon Crop Tool atau dapat menekan tombol C pada keyboard sebagai shortcut untuk mengaktifkan Crop Tool. Pada Options Bar pilih W x H x Resolution atau pada versi Photoshop terdahulu pilih opsi Size & Resolution… Silakain isi Width (lebar)dengan 28mm, Height (tinggi) 38mm dan Resolution 300px/in.
Cara crop foto pada Photoshop
300px/in merupakan standar kerapatan kualitas foto untuk media cetak, sedangkan untuk media digital biasanya menggunakan resolusi 72px/in. Perbedaanya, selain pada kualitas foto juga ukuran file yang dihasilkan.
Sebagai perbandingan, berikut perbedaan foto 300px/in dan 72px/in dengan ukuran yang sama yaitu 28 x 38mm.
Perbedaan 300ppi dan 72ppi
Kembali pada Crop foto, silakan atur posisi foto agar proporsional sesuai standar pas foto. Apabila telah pas, hit Enter dan foto akan terpotong sesuai kebutuhan.
Seleksi Foto sebelum menghapus Background
Sebelum merubah latar belakang foto, pertama ubah gambar menjadi layer dengan cara klik pada panel layer. Apabila panel layer tidak aktif untuk memunculkannya klik Menu Windows > Layers. Double klik pada tulisan Background. Akan muncul jendela New Layer, biarkan nama layer tetap Layer 0 dan klik Ok.
Cara merubah foto menjadi Layer pada Photoshop
Selanjutnya, pisahkan objek foto dengan background foto. Caranya adalah dengan menggunakan Tool Box > Polygonal Lasso Tools atau dapat menekan tombol L sebagai shortcutnya.
Cara seleksi foto pada Photoshop
Pada tahap ini dibutuhkan sedikit kesabaran dan ketelitian agar hasil editan tetap terlihat realistis. Untuk menggunakan Polygonal Lasso Tools klik pada sudut foto kemudian geser kursor mengkuti area yang akan dipisahkan, klik untuk membuat poin pada lekukan atau area yang melengkung.
Cara seleksi foto pada Photoshop
Untuk membantu mempermudah pengeditan Anda dapat melakukan zoom in, zoom out dan menggeser objek (drag) menggunakan shortcut dibawah ini:
  1. Zoom In: Ctrl + (+);
  2. Zoom Out: Ctrl + (-);
  3. Menggeser Objek (Drag): tekan dan tahan Spasi kemudian drag menggunakan mouse;
  4. Menghapus Poin: gunakan tombol Delete.
Hasil akhirnya kurang lebih akan terlihat seperti gambar dibawah, dimana poin terakhir akan ditarik bertemu dengan poin pertama. Apabila garis yang telah dibuat menjadi garis putus-putus menandakan kita telah sukses membuat seleksi menggunakan Polygonal Lasso Tools.
Hasil seleksi foto pada Photoshop
Menjadikan foto terlihat lebih Realistis
Sebelum menghapus latar belakang sebaiknya kita memberikan sedikit sentuhan agar foto tidak terlihat “mengambang” apabila ditempelkan dengan latar belakang lain. Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Cara membuat pas foto pada Photoshop
Pada objek sebelah kiri background foto langsung di hapus setelah di seleksi menggunakan Polygonal Lasso Tools sehingga terlihat kasar dan kaku. Untuk objek kedua (tengah), dapat dilihat pada lekukan-lekukan objek terlihat tidak kasar seperti objek pertama. Dan untuk objek ketiga sisi objek terlihat lebih halus dan tidak terkesan menempel pada background. Metode diatas dapat diterapkan agar foto tidak terkesan kaku saat ditempel pada latar belakang yang berbeda. Untuk menambahkan efek tidak kasar pada foto caranya klik Menu Select > Smooth, isi nilai Sample Radius sesuai kebutuhan. Nilai 2 s.d 4 biasanya sudah cukup.
Menambahkan efek Smooth pada Photoshop
Untuk menambahkan efek halus caranya klik pada Menu Select > Feather, isi nilaiFeather Radius sesuai kebutuhan. Nilai 1 s.d 1,5 biasanya sudah cukup.
Menambahkan efek Feather pada Photoshop

Menghapus dan merubah Background Foto

Setelah foto diberi sentuhan Smooth dan Feather selanjutnya adalah menghapus latar belakang foto yaitu dengan cara menekan tombol Delete pada keyboard. Foto akan terlihat seperti gambar dibawah, untuk menghilangkan seleksi (garis putus-putus) dapat menggunakan shortcut Ctrl + D.
Cara merubah background pada Photoshop
Terakhir, menambahkan background pada pas foto yaitu dengan cara menduplikat layar. Pada Panel Layer klik kanan Layer 0 kemudian pilih Duplicate Layer… atau dapat menggunakan shortcut Ctrl + J.
Cara duplikat layar pada Photoshop
Sekarang layer akan bertambah menjadi dua, yaitu Layer 0 copy dan Layer 0. Pada Tool Box, ubah warna Background sesuai kebutuhan misal warna biru. Ubah layer aktif menjadi Layer 0. Gunakan shortcut Ctrl + Delete untuk merubah warna latar pada Layer 0 (layer aktif) sesuai dengan warna background pada Tool Box.
Cara merubah latar foto pada Photoshop
Hasil akhirnya akan terlihat seperti gambar dibawah.
Membuat pas foto di Photoshop
Untuk kebutuhan pengeditan (agar mudah merubah warna latar tanpa perlu mengedit ulang dari awal) simpan dokumen yang telah dibuat kedalam format Photoshop (.psd). Sebelum mencetaknya pastikan Anda menggabungkan terlebih dahulu kedua layer tersebut dengan cara klik Menu Layer > Flatten Image. Cara membuat pas foto menggunakan Photoshop diatas merupakan tutorial pemula, dimana Anda dapat mengembangkannya agar dapat menghasilkan editan yang lebih baik.
Selanjutnya Anda dapat mengatur kontras, kecerahan foto dan dapat membersihkan noda/kotoran pada foto agar menghasilkan foto yang lebih realistis. Mari berdiskusi pada kolom komentar apabila terdapat hal yang kurang di fahami atau berbagi tip lainnya seputar cara membuat pas foto menggunakan Adobe Photoshop.
Related with “

Cara membuat Pas Foto menggunakan Photoshop

Minggu, 20 Agustus 2017

bigben strategy


Here’s the story behind Project daily20pip, after this session you will understand why London market is the best time for day trading and why this strategy is so easy even for a forex newbie. Day trading the foreign currency (forex, FX or interbank) markets is definitely one of the more challenging endeavors an aspiring trader can pursue the higher degree of leverage (as high as 50:1 or 100:1) available in this market can increase profit, but it equally accelerate loss. This makes the issue of trade timing and selection that much more critical to success Because of the lack of volume data in the spot currency market, newer trader will find they will need to develop much more disciplined strategies that rely less on broader market dynamics and more raw price action and individual market. 
The “Big Ben” strategy exemplifies this approach. This suite for day trading technique that takes advantage of the shift from trading from one market centre to another in the 24-hour forex trading environment.The Big Ben Strategy Big Ben is a currency-specific trading strategy designed to captured the first direction al intraday move that often occurs within the first few hours after the Frankfurt/London market openings which begin at approximately 1 am EST or 13.00 WIB. The strategy woks best with the British pound/U.S dollar (GBP/USD) rate. Because this currency rate trades lightly outside London trading hours, the surge in trading every morning in the U.K gives it a “real” market opening, which the strategy looks to exploit. Figure 1 shows pound/dollar trading is virtually non-existent during Asian trading hours. When London opens, however, the pound/dollar accounts for nearly one-quarter of all forex trading. Currency rates with more continuous, 24-hour trading will have les of a distinct open/close as they pass through the different money centers. For example, the dollar/yen rate (USD/JPY), which dominates forex activity during Asian trading hours (78 percent of volume), still accounts for 17 percent of trading during European hours. Before explaining the specific logic behind the methodology let’s take a look at what needs to occur for a trade to set up.


The Logic As mentioned. The pound / dollar rate tends to have lower trading volume outside European / London trading hours because the majority of GBP/USD spot deals are worked through U.K and European dealers. This gives the European/British interbank community tremendous insight into the currency pair’s actual supply demand picture.

 The Big Ben trade sets up when interbank dealing desks use this intelligence to trigger stops on both sides of market, resulting in new intraday highs and lows. Once these orders are cleared from the books, the market is primed for its first real directional move of the day, which is what the strategy is designed to capture. The logic behind this trade should be similar with many range breakout strategy used to capitalize on the first real move of the day like our daily20pip strategy with forex signal generator working method with daily pivot calculation.

The rules The following rules are for short traders, but the strategy can be reserved to trade on the long side. Setup: 1.The pair makes a new range at least 20 to 25 pips above or bellow the opening price after the early Frankfurt/London trading in the GBP/USD rate begins around 1 am EST. 2.The pair then reverses and trade 20 to 25 pips or more above or bellow the opening price. 3.The pair the reverse once again to trade back bellow the intraday low established in step 1. 4.Sell a breakout (at least seven pips) bellow the London low. 5.Once filled, place an initial protective stop about 30 to 40 pips above or bellow the entry price. 6.After the market moves lower by the distance between the entry price and stop, cover half the position and trail a stop on the remainder.
These simple rules position you to profit from common behaviour that can occur in the pound / dollar when the London / European markets opens.

Trade examples Figures 2 shows a Big Ben trade idea on a five minute chart. The first vertical line marks midnight EST. The second vertical line denotes the Frankfurt open and the third line shows when London players begin entering the market.

 When Frankfurt market opened, the pound / dollar first moved lower, taking out any nearby sell stops. Within 15 minutes of London entering the picture. However, the market reversed to the upside. The pair was now free to make the first real directional move of the day, and it fell 90 “pips” before buyers stepped in. Figure 3 illustrates a variation of the Big Ben strategy that commonly occurs when there is an abnormally wide opening range. In this case, the pound traded up 26 pips after the London open to 18583, establishing the to of its range. It then came under pressure and sold off 65 pips to make a low of 1.8518 (horizontal line). Next, the currency trader up 50 pips before reversing and plunging bellow the former low In this case, a trader could still justify entering a position, since the basic principles behind the trade were still present. The Big Ben Currency day-trading strategy allows you 

to limit initial risk and captured good moves early in the London trading session. 
The simple strategy of watching the currency markets, the approach is based on the workings of the global forex market and attempts to exploits its structure. Now you know why London market is the biggest one, and don't forget to start pick this advantage May the pip be with you From you friend at far far away. P-lopez.

" Article and Image taken From Big Ben Trading Strategy (Currency Trader Magazine September 2004) "

Kamis, 01 Juni 2017

Jangan Terjebak dengan Sistim Pencari Kekayaan yang Salah

1 JULI 2008

Kenapa banyak kita temukan orang-orang yang bekerja keras siang malam tapi masih saja hidup serba kekurangan?
Mereka sudah bekerja all out sedemikian rupa.
Mereka sudah gunakan segenap sumber daya supaya bisa survive.
Mereka bukanlah orang-orang yang malas.
Tapi kenapa hasil yang mereka peroleh tidak sepadan dengan usahanya?
Apakah ada kenalan, tetangga, kerabat anda yang mengalami hal ini? Atau mungkin anda sendiri?
Penyebabnya adalah, mereka terjebak dalam sistim pencari kekayaan yang salah. Mereka tidak tahu bagaimana sistim pencari kekayaan yang sebenarnya.
Adalah fakta bahwa: menjadi orang kaya itu bukanlah kesempatan, tapi pilihan.
Ya, kita memilih untuk menjadi kaya. Itu adalah hak kita. Success is my right kata Andrie Wongso. Sukses adalah hak semua orang, tanpa terkecuali.
Apalagi di era demokratisasi ekonomi ini. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk kaya dan sukses.
Dulu, kekayaan hanya ada di tangan orang-orang yang menguasai tanah, kemudian berpindah ke tangan mereka yang menguasai sarana produksi (pabrik).
Sekarang tidak lagi. Seorang miskin pun bisa kaya dengan mudah. Seorang anak muda usia 20 tahunan bisa menjadi miliarder mengalahkan yang usia 40 tahun.
Ya, era demokratisasi ekonomi dan kesempatan itu menjadi terbuka lebar karena satu kata: informasi.
Informasi di era digital saat ini dapat diperoleh dengan begitu mudah dan murahnya. Siapa saja bisa mendapatkannya, tak peduli dia anak bangsawan, pejabat, atau keturunan darah biru.
Namun, masalahnya adalah informasi itu begitu berlimpah. Over loaded. Anda harus memilah-milah informasi apa yang paling berguna untuk mendongkrak kekayaan anda.
Sebelum mencari informasi-informasi itu, pahami dulu sistim pencari kekayaan yang baik dan benar, yang teruji dari zaman Babilonia sampai sekarang.
Sistim itu sangat mudah dan sederhana. Setelah membaca, pasti anda akan bergumam: “Ini sih gue udah tau…”
Ini dia, sistim pencari kekayaan yang sangat powerful dan teruji itu:
1. Pahamilah dengan jelas cara mendapatkan dan mengumpulkan kekayaan.
2. Tirulah sistim-sistim penciptaan kekayaan yang sudah terbukti keampuhannya.
3. Bersikaplah konsisten dalam menerapkannya.
Nah, anda kaget kan. Ya, hanya itulah caranya. Itulah yang dilakukan orang sejak zaman nabi sampai era anak ajaib Mark Zuckerberg saat ini.
Ingat, kata kuncinya adalah: Pemahaman, Peniruan, Konsistensi.
Thanks to Burke Hedges yang telah menggali penemuan sederhana tapi berdaya guna dahsyat ini.
Semoga bermanfaat.

Selasa, 13 Desember 2016

LO KHENG HONG : JADIKAN SAHAM SEPERTI ATM

Liputan Khusus Kontan 29 Agustus 2012. Sukses dan nama besar Warren Buffet di dunia investasi menuai kekaguman dari pemain saham di penjuru dunia. Tak sedikit investor yang menjadikan Buffet sebagai panutan, mempelajari strategi investasinya, dan menerapkannya. Di Indonesia, salah satu yang terinspirasi oleh Buffet adalah Lo Kheng Hong.
Pria berusia 53 tahun ini berpegang pada metode analisis fundamental Buffet. Ia tak bergeming dan tak pernah sekali pun mencoba jurus investasi saham lain.
Bagi Lo, Buffet adalah gurunya. Ia hafal di luar kepala banyak petuah Buffet, kisah hidup
sang maestro, bahkan menghormati prinsip hidupnya. Rupanya tak sia-sia Lo membaca puluhan buku ‘ajaran’ Buffet, ia menarik pelajaran dari situ dan hasilnya? Lo telah memetik keuntungan besar dari bursa saham.  Keuntungannya dari saham berlipat ribuan persen.
Nafkah hidupnya pun hanya berasal dari saham. Ia mengaku tak punya usaha atau pekerjaan apapun selain berinvestasi saham. Tak heran, pelaku bursa banyak menjuluki ayah dua orang anak ini sebagai Warren Buffet-nya Indonesia.
Simak kisah, pandangan hidup, dan strategi investasi Lo dari pengakuannya sendiri kepada KONTAN berikut.
Saya ini hanya seorang investor, 100% uang saya taruh di saham.
Jadi saya tidak bekerja dan saya tak punya kantor. Saya hanya punya satu sopir untuk mengantar-antar saya dan dua pembantu di rumah. Saya bangga jadi investor saham. Kalau ...>>>
mengisi formulir, misalnya di bank pun, saya selalu tulis profesi saya investor saham.
Saya ini sudah berinvestasi saham selama 23 tahun. Tentu saja tidak semua investasi saya berhasil, saya pernah jatuh. Saya juga tidak langsung pintar.
Semakin lama orang bermain saham, dia bisa belajar dari kesalahannya dan akan semakin terlatih.  Saya percaya, orang yang berhasil itu adalah orang yang jatuh tapi bangun lagi.
Pertama kali saya membeli saham tahun 1989. Berapa modal awal saya? Nol. Waktu itu saya masih karyawan Bank Ekonomi, jadi saya hanya menyisihkan sedikit demi sedikit dari gaji saya. Kalau orang lain membelanjakan penghasilannya untuk macam-macam, saya belanjakan sebagian gaji setiap bulan untuk membeli saham.
Saya ingat, di awal saya invest, saya mengantre untuk membeli saham penawaran perdana (IPO) PT Gajah Surya Multifinance. Antrenya panjang sekali. Saya semangat membeli, eh nggak tahunya begitu listing saham itu jeblok. Hahaha...
Tapi saya tetap yakin dan terus berinvestasi sampai akhirnya pendapatan dari saham bisa menghidupi saya. Ketika saya sudah merasa cukup, pada tahun 1996, saya berhenti dari Bank Ekonomi pada saat saya sudah jadi Kepala Cabang.
 Ada empat alasan kenapa saya memilih menjadi investor saham.
Pertama, investor saham bisa menjadi orang terkaya di dunia. Contohnya? Ya, Warren Buffet. Saya belajar dari dia. Selama 10 tahun terakhir ini, saya sudah baca 40-an buku tentang Buffet. Buku itu tak hanya saya baca sekali, tapi saya ulangi dua tiga kali, benar-benar saya pahami isinya.
Kedua, keuntungan perusahaan itu hak si pemegang saham. Bayangkan, yang bekerja direksi dan karyawan, tapi begitu untung yang menerima pemegang saham. Enak kan? Membeli perusahaan yang untung besar itu seperti membeli mesin pencetak uang.
Ketiga, dalam jangka panjang imbal hasil saham lebih tinggi dari instrumen investasi lainnya, seperti obligasi, emas, dan properti.
Keempat, jadi investor itu waktu luangnya banyak. Anda tahu, di dunia ini ada empat macam manusia. Tipe pertama,  orang yang punya banyak waktu tapi tidak punya uang. Contohnya, orang pengangguran.
Tipe kedua,  yang punya banyak uang tapi tidak punya waktu. Yang ini biasanya para pengusaha. Lalu tiga, orang yang tidak punya waktu dan tidak punya banyak uang juga. Ini kebanyakan para pegawai yang bergaji kecil.
Tipe terakhir, orang yang punya waktu dan punya uang. Tipe terakhir inilah yang saya inginkan sebagai investor saham. Orang bilang, time is money. Buat saya tidak, waktu lebih berarti dari uang. Uang bisa dicari, tapi uang tidak bisa mengembalikan waktu.
Sekarang saya merasa punya banyak waktu. Saya bisa travelling menjelajahi berbagai kota di lima benua. Sekali saya pergi, tidak sebentar lho, saya bisa tinggal sampai sebulan di sana.
Tapi saya juga memanfaatkan waktu saya untuk membaca. Setiap pagi, bangun, lalu saya pergi ke taman, duduk membaca dan berpikir. Itu hobi saya. Laporan keuangan itu makanan sehari-hari. Saya juga berlangganan empat koran, tiga di antaranya koran bisnis termasuk KONTAN. Semuanya saya baca dari halaman satu sampai habis.
Sering saya baru mandi jam satu, kemudian keluar, kadang pergi ke sekuritas. Saya ini manusia gaptek. Saya tidak punya laptop, tidak mengerti apa itu email atau internet apalagi online trading. Jadi saya membeli saham selalu lewat telepon kepada beberapa sekuritas. Saya tidak takut kehilangan momentum meskipun membeli lewat telepon, kan saya bermain saham untuk jangka panjang.
Dalam berinvestasi, saya berusaha membeli perusahaan yang bagus di harga murah dan saya simpan.
Saya punya lima kriteria untuk membeli perusahaan publik.
Pertama, lihat manajemennya apakah dikelola orang yang jujur, profesional, berintegritas, dan saya kagumi. Jarang sekali orang membeli saham dengan melihat ini, biasanya orang hanya lihat laporan keuangan. Tapi bagi saya, kalau dalam properti itu ada istilah lokasi, lokasi, lokasi, dalam ekuiti itu harus manajemen, manajemen, manajemen.
Kedua, perhatikan usahanya. Di masa depan akan seperti apa bisnis itu? Memang, hari esok itu misteri. Tapi saya sendiri berpendapat, masa depan itu ditentukan juga dari masa lalu. Bagi perusahaan yang sudah memenuhi syarat pertama tadi, kita bisa lihat masa lalunya dalam jangka panjang misalnya 5-10 tahun ke belakang. Kalau itu untung, kemungkinan ke depan juga akan untung.
Ketiga, cari perusahaan yang labanya besar.  Hitung berapa besar profit margin-nya dan return on equity-nya (laba per saham).
Keempat, pilih perusahaan yang terus bertumbuh dalam jangka panjang.
Kelima, cermati valuasi dari PER (price earning ratio) atau PBV (price to book value), bandingkan dengan kompetitornya. Belilah yang murah. Kesempatan emas untuk membeli saham bagus dengan harga murah tentu saja di tengah kondisi krisis. Saya selalu ikuti prinsip Buffet, be greedy when the others are fearful.
Dengan lima prinsip sederhana itu nyatanya saya berhasil.
Pada tahun 2005, saya membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI). Waktu itu harga perusahaan ternak ayam terbesar kedua di Indonesia ini baru Rp 250 per saham. Saya kumpulkan pelan-pelan sahamnya sampai akhirnya punya 8,29% saham. Tahun lalu, harga sahamnya sudah mencapai Rp 31.500, jadi naik 12.600%. Keuntungan itu saya realisasikan. Saham itu saya jual karena dia akan merger dengan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA).
Saya juga pernah punya saham PT Timah Tbk (TINS). Saya beli di tahun 2002 seharga Rp 285. Dalam dua tahun harganya naik ke Rp 2.900. Saya jual, tapi setelah saya lepas, dia terbang lebih tinggi lagi. Waktu itu ilmu memang belum tinggi. Begitu harga saham naik banyak, saya gemetar.
Menyesalkah saya? Begini, kalau investor saham tidak bijak, maka seluruh hidupnya akan berisi penyesalan. Jual sekarang, besok harga lebih tinggi lagi. Tahan, enggak tahunya harga turun terus.
Selain dua saham itu, saya pernah mendapat keuntungan cukup besar dari PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Gadjah Tunggal Tbk (GJTL), PT Charoen Pokphan Tbk (CPIN), PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).
Sekarang, portofolio saya berisi sekitar 20-an saham dengan jumlah saham maksimal 4%. Tidak banyak kelihatannya, tapi rata-rata perusahaan besar. Saya juga merotasinya. Kalau ketemu satu perusahaan bagus, maka saya cari mana di portofolio yang sudah menurun dan saya buang satu juga.
Saya juga pernah rugi.
Saya pernah rugi karena margin. Makanya sejak tahun 1998 saya enggak pernah memakai fasilitas margin lagi.
Saya sekarang bebas utang. Pernah dengar kisah Jesse Livermore? Dia salah satu investor yang sangat sukses di jaman dulu. Dari tukang tulis papan bursa dia investasi saham dan jadi investor besar. Tapi dia berutang dan akhirnya ketika investasinya gagal, dia bunuh diri.
Saya tidak mau seperti itu. Kalau tidak punya utang, meskipun saham saya hancur, saya tidak apa-apa. Saya masih punya saham itu yang ke depan juga bisa naik lagi.
Karena itu, meskipun harga saham jatuh dan uang saya tinggal 15%, saya tetap membeli saham. Tentu saja istri tidak tahu...ha ha ha. Saya membeli saham United Tractors (UNTR), saham bagus yang harganya sudah murah sekali. Waktu itu pernah jatuh sampai Rp 125, tapi saya baru masuk di Rp 250. Padahal, laba operasi per sahamnya sudah 7.800.
Saya belikan semua sisa uang saya untuk satu saham itu. Dan benar, UNTR naik terus. Pada tahun 2004, saya akhirnya jual. Waktu itu harga UNTR Rp 1.350, tapi ini harga sesudah stock split. Kalau dihitung itu kira-kira setara Rp 15.000, jadi saya untung sekitar 6.000%.
Saya ini tidak sama dengan investor saham umumnya.
Saya tidak suka mengejar dividen. Menurut saya, lebih baik saya investasi pada perusahaan yang menggunakan devidennya sebagai modal kerja. Itu akan lebih memberi saya keuntungan.
Saya juga tidak mengejar saham-saham IPO. Dari pengalaman, kalau kita beli saham IPO, ketika sahamnya naik ternyata kita cuma dikasih beberapa lot saja. Tapi kalau jeblok, seringnya kita pesan berapa pun dikasih.
Saat ini, saya melihat IHSG bagus, sudah di atas 4.000 di kondisi krisis seperti ini.
Tapi bukan berarti semuanya mahal. Makanya investor harus melakukan pekerjaan rumahnya, risetlah mana yang masih murah. Saya sendiri sekarang memiliki saham di sektor perbankan, consumer goods, peternakan, sawit, bahkan batubara.
Sejauh ini, saya masih bermain saham di bursa dalam negeri. Tapi bulan depan saya rencananya akan pergi ke Yunani. Saya akan mendalami bursa di sana, pasti banyak saham bagus yang harganya murah. Ini kesempatan.
Terakhir, saran saya bagi investor sekarang: kerjakan PR.
Berapa banyak dari investor yang masih baca laporan keuangan? Berapa yang melakukan analisis fundamental? Membeli saham perusahaan tanpa melihat lima hal dasar yang saya sebut tadi itu dan hanya melihat chart menurut saya tidak benar, keliru, dan menyesatkan. Investor harus tahu apa yang dia beli.
Main saham itu juga bukan perkara hoki. Tuhan itu maha pengampun, tapi bursa saham tidak punya belas kasihan pada orang yang tidak tahu apa yang dia beli.